Pages

Sunday, May 11, 2014

Resume Alam Pikiran Mitis, Ontologis dan Fungsionil Menurut Prof. Dr. C. A. Van Peursen

Alam Pikiran Mitis

A . Mitos sebagai bakat manusiawi

            Dunia mitis meliputi kebudayaan primitif. Primitif adalah peradaban yang sangat sederhana, belum maju atau kebudayaan kuno dan tidak modern (kbbi). Istilah “primitif” yang terdapat dalam buku-buku yang telah dikarang oleh para antropologi kebudayaan sebetulnya tidak tepat. Karena  dunia yang ditemukan dalam buku-buku tersebut ternyata serba baru, kaya akan cerita-cerita yang mengandung suatu filsafat yang dalam, gambaran-gambaran yang ajaib, dan adat istiadat yang beraneka warna. Yang ditampilkan disini ialah manusia-manusia yang langsung berhubungan dengan daya alam yang serba rahasia.

            Rasa kagum dari zaman romantik memandang manusia primitif sebagai manusia purba yang hidupnya masih dekat dengan alam dan masih murni, belum disentuh oleh akses-akses peradaban dan teknik modern. Orang primitif masih berjiwa sederhana seperti kanak-kanak, masyarakatnya belum mengenal permasalahan yang memusingkan manusia modern, dan dunia mereka penuh dengan dunia gaib diliputi rahasia dan sangat interesan. Tetapi kalau kita selidiki lebih mendalam, masyarakat primitif mempunyai susunan yang berbelit-belit, kaidah-kaidah yang kuat. Maka jelaslah bahwa mitos-mitos bukan dongeng-dongeng, melainkan buku pedoman bagaimana hidup ini dijalani.

            Sikap rasionalis yang memandang rendah terhadap kebudayaan mitis, seolah-olah alam pikiran mitis itu primitif, tidak ilmiah. Sarjana prancis, Lévy Bruhl pernah memakai istilah “mentalitas primitif” yang menyebut alam pikiran primitif adalah pikiran pra-logis. Tetapi sarjana tersebut menarik kembali pendapatnya, dan ia mengatakan bahwa alam pikiran primitif itu memang berbeda dengan pemikiran kita. Namun akhirnya , dalam setiap bahasa manusia dan semua pola sosial mempunyai garis-garis yang sama, susunan logis yang sama.

             Kedua salah paham tadi, pandangan romantis dan pendapat rasionalistis, tidak dapat mengerti bahwa dalam dunia mitis nampaklah suatu sifat manusiawi yang umum. Meskipun bentuk kebudayaan dan pemanfaatan barang-barang dari dunia kita, namun dalam mitos pun kita menyaksikan bagaimana manusia menyusun strategi, mengatur daya-daya kekuatan antara alam dan manusia. Kebudayaan yang satu tidak lebih tinggi derajatnya daripada kebudayaan lain. Kita memang berpendapat bahwa kebudayaan primitif bersifat kekanak-kanakan, tetapi ada orang-orang primitif yang menilai sikap manusia modern serba kekanak-kanakan, karena kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan bila sesuatu diterangkan kepada kita, demikian pendapat Lévy strauss. Seorang penyelidik margaret mead, justru ingin menerapkan hasil riset kebudayaan primitif terhadap kebudayaan modern. Dalam semua riset itu, dunia mitis tidak hanya nampak sebagai tanah asal-usul kita, melainkan juga sebagai teman seperjalanan dalam menjalani kebudayaan kita sendiri.
B. Fungsi mitos
            Mitos ialah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat diungkapkan lewat tari-tarian atau pementasan wayang. Fungsi mitos yang pertama adalah menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. Fungsi kedua adalah memberi jaminan pada masa kini. Fungsi yang ketiga adalah memberi pengetahuan tentang dunia. Inti sikap hidup mitis adalah bahwa kehidupan ini ada, ajaib, berkuasa dan penuh kekuataan. Dan bersama dengan kesadaran tersebut timbullah cerita-cerita mitos beserta perbuatan yang menjamin kehidupan manusia dan kebertalian dengan sukunya. Bahkan kepemimpinan dan kerukunan dalam suku itu berdiri atas dasar mitos-mitos.
C. Manusia dan dunia
            Dalam lingkup hidup mitologis tiada garis pemisah yang jelas antara manusia dan dunia, antara subyek dan obyek. Dalam tahap ini manusia belum bisa dinamakan subyek sepenuhnya, karena manusia masih merupakan lingkaran terbuka, belum mempunyai eksistensi yang bulat. Manusia diresapi pengaruh-pengaruh dari sukunya dan dari alam raya.
            Belum kelihatan pemisah antara garis dunia batin dan dunia luar. Orang primitif belum mempunyai pengertian modern mengenai jiwanya sebagai sesuatu yang merupakan miliknya sendiri dan dasar identitasnya sebagai manusia yang berpribadi. Dari lain pihak batas-batas badan pun tidak jelas. Akar-akar atau tali rotan dianggap sebagai lanjutan dari ususnya sendiri, alam dihayati sebagai sesuatu dari diri kita sendiri. Perasaan manusia primitif hanya ada satu dunia organis yang hidup.
            Manusia dan alam saling meresapi, dan oleh karena itu kekuatan manusia dan ilahi juga saling terlebur. Tokoh-tokoh dari alam dewata juga menampakkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Mereka mewujudkan norma-norma untuk menilai kelakuannya sendiri. Mereka mengejahwentahkan nilai-nilai transeden yang mengatur kehidupan manusia di dalam masyarakat.
            Nilai-nilai dan norma-norma seolah-olah merupakan lalu lintas yang mengatur masyarakat. Bagi suatu masyarakat primitif terutama saat-saat kelahiran, inisiasi, perkawinan dan kematian merupakan persimpangan lalu lintas dimana mitos-mitos kuno menjalankan fungsinya. Dalam masyarakat primitif nilai-nilai tidak akan berubah dengan cepat seperti dalam masyarakat modern. Mentalitas modern terarah kepada kemajuan, perubahan, hari depan, sedangkan penghayatan mitis lebih menoleh ke belakang, ke masa silam yang yang terselubung oleh mitos-mitos.
D. magis
            Dalam kehidupan manusia primitif, magis memainkan peranan besar. Praktek-praktek magis dalam sudut tertentu dapat disamakan dengan asuransi jiwa dalam masyarakat modern. Mitos lebih bersifat transeden, magis lebih bersifat imanen. Atau lebih sederhana: mitos lebih mirip dengan pujaan religius, sedangkan magis lebih condong menguasai sesuatu lewat beberapa kepandaian. Magis dipergunakan untuk menangkis mara bahaya, mempengaruhi daya-daya kekuatan alam, menguasai orang-orang lain sampai membunuh orang lain dengan cara-cara tertentu.
            Banyak ahli diantaranya G Van der Leeuw dan J. Wach, membedakan antara religi dan magis: dalam religi manusia ingin mengabdi, dalam magis manusia ingin menguasai. Mereka menjelaskan dalam mitomenys-mitos daya-daya kehidupan dikembangkan, terutama diwujudkan lewat pertalian dengan suku, totem. Kecenderungan ini dapat menuju ke sikap angkuh dan sombong. Bila sikap magis menang, maka lambang-lambang mitologis, nilai-nilai beserta dewa-dewa hampir direndahkan,, dijadikan catatan kaki yang menyertai upacara-upacara magis.
            Tata upacara telah menjadi tujuan utama. Dan ini pada gilirannya menunjang kekuasaan para imam, karena hanya merekalah yang mampu melaksanakan upacara berbelit-belit sampai segala detailnya. Dan dengan demikianlah martabat imam diwariskan secara turun temurun danakhir menjadi kasta tersendiri.

Alam Pikiran Ontologis

A.    Ontologis sebagai pembebasan
            Alam pikiran ontologis manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Ia tak begitu terkurung lagi, kadang-kadang ia menjadi penonton terhadap hidupnya sendiri. Dengan demikian ia berusaha memperoleh pengertian mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Perbuatan praktis dan kesenian memainkan perananya, tetapi renungan-renungan teoritis mengenai alam yang tidak nampak (metafisika) mulai tampil ke muka. Fase ini terkenal dengan perkembangan dari mitos ke logos.
            Merenungkan barang-barang, peristiwa-peristiwa, suka duka manusia dan masyarakatnya juga dapat dinamakan: renungan tentang ada. Ada yang meliputi segala sesuatu sejak dahulu kala merupakan sasaran bagi setiap pengertian filsafat dan akhirya memuncak dalam suatu ilmu mengenai ada itu atau ontologi. Merenugkan tentang ada itu mengakibatkan pembebasan. Dari pelbagai segi alam pikiran barat berbeda dengan alam pikiran timur. Namun, pada umumnya, alam pikiran timur lebih condong meleburkan segala sesuatu, termasuk individu manusia, di dalam yang mutlak yang tak terungkap. Alam pikiran barat mempunyai ciri khas tersendiri yaitu tempat munculnya ilmu pengetahuan dan teknik.
            Segala perubahan menuntut manusia untuk dari manusia, agar dia mengambil sikap yang serba barudan segar terhadap dunia ini, dunia yang dikenalnya sejak dulu kala, namun tetap penuh rahasia. Tuntutan ini terutama diajukan terhadap daya pikirnya. Bukankah manusia harus menempatkan diri berhadapan dengan dan lepas sari segala peristiwa, agar dengan demikian dia dapat meninjau semua itu, lalu membuat petanya? Sikap yang baru itu kita namakan alam pikiran ontologis. Alam pikiran seperti ini membebaskan manusia dari lingkaran mitologis. Alam pikiran ontologis berani hidup dalam ketegangan jarak dengan mitologis.

B.     Fungsi-fungsi pemikiran ontologis
            Fungsi pertama adalah membuat suatu peta mengenai segala sesuatu yang mengatasi manusia. Jalan yang menuju ke pengertian selalu dipandang sebagai sesuatu pengabdian terhadap masyarakat dan sebagai cara yang tepat untuk menghormati dan mengakui para dewa di kemudian hari pengertian itu bahkan akan menghasilkan bukti-bukti mengenai adanya tuhan. Baik persamaan dan perbedaan dengan alam pikiran mitis kini menjadi makin jelas. Kedua-duanya menghubungkan dunia ini dengan dunia sana, dalam keduanya mitos dan ontologis mengatur hubungan antara manusia dan daya-daya kekuatan sekitarnya.
            Fungsi kedua adalah menjamin mengenai hari ini, kita jumpai pula dalam sikap ontologis. Proses yang terjadi dalamalam raya dan dalam hidup manusia mulai diterangkan dengan bertitik pangkal pada hukum-hukum abadi. Fungsi ketiga ialah menyajikan pengetahuan. Mitos pun memberikan sedikit pengetahuan mengenai hal ikhwal dunia ini, tetapi sikap ontologis terutama menonjolkan pengetahuan sistematis yang dapat dikontrol. Sekalipun persoalan-persoalan yang mereka ajukan tidak mudah (mengenai idea-idea, sebab musabab, metefisika, keterangan logis) namun cara berpikir ini tetap mempengaruhi manusia modern.
C.     Manusia dan dunia
            Dalam dunia mitis manusia individuil belum mempunyai suatu identitas sendiri. Ia dikuasai oleh daya-daya pertalian dengan alam sekitarnya. Ia disebut menurut nama-nama yang diasalkan dari seorang kepala marga atau dari binatang pelindung marga. Dalam dunia mitis manusia masih dapat mengatakan bahwa jiwanya sedang merantau di luar badannya dan berdiam dalam pohon para leluhur.
            Dalam tahap ontologis manusia juga mulai menanyakan tentang “apa” nya para dewa itu. Maunsia tidak lagi terpukau dengan pengalaman yang mengetarkan, bahwa ada sesuatu yang tak terungkap. Pembaharu-pembaharu dalam masyarakat dapat terjadi lebih cepat lagi bila nilai-nilai itu telah dirumuskan dengan cermat. Rumus-rumus dapat dibicarakan, diperdebatkan dan kalau perlu dirubah. Nilai-nilai disusun menurut suatu skala dari yang paling tinggi sampai ke yang paling rendah.
D.    Substansialisme
            Dalam alam pikiran mitis manusai terpukau oleh kenyataan bahwa sesuatu itu ada, sedangkan dalam sikap ontologis yang dipentingkan adalah “apa” nya. Dalam keadaan pertama subyek dan obyek, manusia dan dunia, saling meresapi (partisipasi). Dalam tahap kedua manusia ambil jarak terhadap manusia dengan dunia (distansi). Susbtansi sendiri berarti sesuatu yang dapat berdiri sendiri, yang mempunyai landasan sendiri dan tidak perlu bersandar kepada sesuatu diluarnya. Substansialisme dimaksudkan sikap yang sungguh mau menenmpatkan sesuatu lepas dari sesuatu yang lain.
            Substansialisme mempunyai efek yang membekukan. Dalam agama dan filsafat patokan-patokanmenjadi beku. Tata negara dan perbuatan-perbuatan moril diikat oleh hukum-hukum abadi. Manuia di pakukan dengan rumus-rumus yang pernah ditelurkan oleh ilmu pengetahuan pada zaman tertentu. Cara berpikir ontologis sebenarnya merupakan suatu cara tertentu dalam bidang permenungan, perbuatan, kemauan, perasaan, organisasi, pertukangandan penentuan policy. Dalam alam pikiran substansialistik telah nampak peralihan ke suatu tahap kebudayaan baru. Peralihan ke arah suatu bentuk pembebasan baru.
  
Pemikiran Fungsionil

A.    Peralihan ke arah pemikiran fungsionil
            Pemikiran fungsionil menyangkut hubungan, peraturan dan relasi. Sebetulnya alam pikiran manusai selalu mengandung aspek-aspek fungsionil, apalagi bila cara berpikir tersebut dapat memperlancar perbuatan dan pola perbuatan manusia. Istilah “fungsionil” lalu dapat dijadikan sarana untuk meringkas dan menjelaskan sejumlah gejala modern. Dan yang diharapkan adalah agar kita semakin menyadari pergeseran-peergeseran yang kita alami.
            Alam pikiran fungsionil dapat dipandang sebagai suatu pembebasan. Istilah piikiran disini sebetulnya terlalu sempit, karena alam pikiran ini meliputi baik teori maupun praktek, perbuatan dan karya artistik, pekerjaan dan keputusan-keputusan politis. Sesuatu mungkin dapat dimengerti melalui akal budi, tetapi tidak diselami dengan perasaan, lalu ditolak, barang atau orang itu tidak berbekas dalam hati kita dan tidak mempunyai arti bagi kita. Bukan jalan-jalan tradisionil yang mendorong kita untuk mengambil suatu keputusan etis, melainkan justru situasi-situasi yang serba baru dan tak terduga.

B.     Beberapa aspek dalam pikiran fungsional
            Aspek pikiran fungsionil adalah bagaimana memberi dasar kepada masa kini dan bagaiman peranan pengetahuan dalam berkehidupan. Arti sesuatu adalah cara sesuatu itu dialami dan diintegrasikan dalam hidup kita. Memahami arti dan makna sesuatu berarti, bahwa arti tersebut dapat dinyatakan dalam praktek.

C.     Manusia dan dunia
            Dalam dunia mitis manusai belum merupakan seorang pribadi yang bulat dan utuh. Dalam pikiran ontologis subyek dan obyek, manusia dan dunia, mulai berhadapan muka. Tetapi dalam pendekatan fungsionil bukan distansi yang diutamakan, melainkan relasi. Dan dengan demikian lenyaplah juga pemisah ketat antara dunia luar dan dunia batin dalam diri manusia.
            Kehidupan rohani kita bukan lagi sesuatu yang semata-mata milik pribadi kita, lepas dari dunia luar dan orang-orang lain. Dslsm tshsp ini nsmpsk dengsn jelas, bahwa kebudayaan bukanlah sebuah kata benda, melainkan sebuah kata kerja. Bertalian dengan ini semuanya nilai-nilai memperoleh suatu fungsi baru. Nilai-nilai lama menjadi usang nilai baru menampilkan diri. Di negara-negara berkembang soal-soal serupa misalnya hasrat untuk memperluas kekuasaan, kecondongan untuk berkorupsi. Di negara-negara industri misalnya konsumsi semakin tinggi, memperpanjang umur hidup dan pengisian waktu luang secara birokratis.
D.    Faham operasionalisme
            Sekalipun peralihan dari alam pikiran ontologisme ke alam pikiran fungsionil masih sedang berlangsung, namun suatu segi negatif dari pikiran fungsionil sudah mulai nampak, seperti faham operasionalisme. Operasionalisme merupaka pendekatan melalui kata “bagaimana” kata ini bisa menjadi alat pribadi yang mementingkan keinginan sendiri. Gejala operasionalisme yaitu suatu bahaya yang melampaui batas-batas yang merongrong sesuatu.    
                Berdampingan dengan istilah operasionalisme kita jumpai pula istilah operasinil. Istilah operasinil tidak ada hubungannya dengan operasinilitas, karena operasionalis disiapkan untuk dipakai, untuk diikut sertakan dalam suatu proses produksi. Dalam istilah ilmu pengetahuan dikenal istilah “deskripsi operasionil”: yang dimaksudkan adalah bagaimana sebuah konsep tersusun berdasarkan cara-cara pengukuran tertentu beserta operasi-operasi mana yang dipergunakan.
            Sikap operasionalistis sangat mempengaruhi hidup sehari-hari. Salah satu pertanyaan yang kita hadapi adalah sejauh manakah pendekatan fungsionil yang terbuka itu membuka pintu bagi benih perhitungan, manipulasi, mengurung diri. Alam pikiran mitis tidak dengan sendirinya, secara otomatis, melaksanakan suatu perubahan. Operasionalisme selalu membayangi pikiran fungsionil bagaikan suara hati yang gelisah. Secara fungsionil kita baru menjadi seorang pribadi, bila kita terbuka untuk sesuatu yang lain atau seorang yang lain. Maka dari itu sikap fungsionil lebih menunjukkan suatu tanggung jawab daripada suatu tahap yang telah tercapai.


Daftar Pustaka: Peursen, Van, C.A. Dr. Prof. 2013, Strategi Kebudayaan, kanisius, yogyakarta.

No comments:

Post a Comment